Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.[QS 27:88]

Ilmu yang membuat manusia lupa dari Al-Haq dan realitas, menurut Al-Quran sama dengan kebodohan

Mereka mengetahui hanya yang lahir dari kehidupan dunia, sedang terhadap kehidupan akhirat mereka lalai. (QS 30:7)

DIA mengajak untuk memikirkan penciptaan manusia sendiri, rahasia yang terdapat di dalam dirinya, untuk memikirkan alam batinnya dan hubungannya dengan Allah

Allah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak mereka ketahui.(QS 96:5)

Kemuliaan dan Ketinggian derajat ilmu.

ALLAH meninggikan beberapa derajat orang-orang yang BERIMAN dan mempunyai ILMU (QS 58:11)

Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur'an

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.(Al Qur'an, 21:33)

ALASAN 4, Mengapa Orang diRuqyah Kesurupan Jin ? Ancaman Yang Mengelilingi


Firman Allah SWT. Qur’an Surat al-A’rof/ayat 7/16-17.
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ(16)ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, – kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at). QS:7/16-17.

Oleh karena Iblis menolak perintah Allah Ta’ala sujud kepada Nabi Adam as, maka Iblis mendapat laknat, “Tersesat untuk selama-lamanya”. Iblis dengan seluruh kekuatan dan bala tentaranya kemudian menjawab hukuman tersebut dengan menyampaikan ancaman untuk Nabi Adam as. dan anak turunnya. Alloh mengabadikan ancaman tersebut dengan firman-Nya: “Saya benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, – kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at). QS:7/16-17)”.

Sejak saat itu genderang perang sudah ditabuh, sejak itupula perang telah terjadi dimana-mana bahkan sampai hari kiyamat nanti. Yang menjadi korban pertama adalah Nabi Adam as. Beliau diturunkan dari kemuliaan abadi di surga ke dalam lembah kehinaan di dunia. Allah Ta’ala juga telah memberi peringatan kepada anak manusia dengan firman-Nya:

يَابَنِي ءَادَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman”.QS:7/27.

Medan peperangannya berada di dalam rongga dada manusia. Tujuannya supaya manusia tidak mampu bersyukur kepada Allah Ta’ala, sehingga menjadi manusia yang kufur nikmat yang akhirnya akan hidup bersama-sama Iblis dan bala tentaranya di Neraka Jahannam untuk selama-lamanya. Wal’iyaadzu Billah.

Dalam mengantisipasi ancaman tersebut dan secara khusus dihubungkan dengan pelaksanaan Ruqyah, maka timbul dua pertanyaan:

1. Mengapa justru orang yang rajin beribadah yang mendapat perhatian serius dari ancaman setan Jin, bukan orang-orang yang sedang berbuat maksiat …?.
2. Bukankah yang dibaca dalam palaksanaan ruqyah itu adalah ayat-ayat yang telah dijaga oleh Allah Ta’ala dengan suatu pernyataan firman-Nya:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. QS:15/9.

Jawaban pertama: Karena orang yang rajin beribadah adalah orang yang berada di jalan lurus atau jalan menuju surga, maka mereka itulah musuh-musuh utama setan Jin. Terhadap ahli ibadah tersebut setan tidak menghalangi supaya mereka meninggalkan ibadahnya, karena hal tersebut merupakan pekerjaan yang berat, akan tetapi supaya tujuan ibadah itu berbelok arah, tidak menuju ke surga lagi melainkan menuju kehancuran manusia. Dengan ibadah yang dilakukan, tanpa disadari pelakunya digiring setan jin untuk memperturutkan hawa nafsunya hingga terjebak berbuat maksiat. Dalam arti tidak melaksanakan perwujudan rasa syukur atas kenikmatan, tetapi ibadah itu hanya dijadikan sarana untuk meminta dan menuntut saja. Itulah tugas utama setan jin sebagai tentara-tentara Iblis yang sangat setia, dalam urusan itu mereka sangat terlatih. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan setan yang terkutuk.

Ketika ibadah dilakukan tanpa bimbingan guru ahlinya, maka kerapkali ibadah tersebut justru menjadi penyebab orang menjadi gila. Kalau bukan gila dalam arti kesurupan jin, ada gila yang lebih bahaya lagi dari itu, yakni gila dalam arti lupa diri atau gila hormat, gila pangkat, gila jabatan, gila dunia bahkan gila dipuji orang. Berangkat dari hal tersebut, supaya setan Jin dapat dengan mudah meracuni pola fikir serta merusak aqidah orang beriman, maka sasaran pertama yang dilakukan adalah merusak kesadaran manusia, melalui pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, ketika orang-orang ramai-ramai di”Ruqyah” ternyata hasilnya malah kesadaran mereka menjadi hilang dan kesurupan jin, maka penulis menyimpulkan, perbuatan tersebut identik dengan perbuatan setan jin.

Jawaban Kedua:  Al-Qur’an al-Karim memang terjaga bahkan sepanjang masa, baik secara batin melalui sistem penjagaan rahasia maupun secara lahir oleh hamba-hamba Allah yang sholeh yang di dalam dadanya menjadi tempat simpanan al-Qur’an. Mereka itu adalah para huffadz dan hafidzoh yang mulia, yang selalu dengan tekun menjaga hafalannya dengan ihlas semata-mata melaksanakan bentuk pengabdian hakiki kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, bukan al-Qur’an yang harus dijaga, karena al-Qur’an sudah terjaga, melainkan orang-orang yang membacanya. Para pembaca al-Qur’an itu harus menjaga diri sendiri dari niat yang tidak benar, dari mengikuti kemauan nafsu syahwat terlebih dorongan hawa nafsu syaithoniah.
Apabila cara membaca itu hanya didorong oleh nafsu syahwat, maka bacaan itu tidak hanya dapat membantu makhluk jin menguasai kesadaran manusia saja, bahkan dapat menghancurkan langit dan bumi dan isinya. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ
Andaikata kebenaran (Al-Qur’an) itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. QS:23/71.

Jadi, hilangnya kesadaran ketika orang diruqyah itu barangkali hanya tujuan awal supaya setelah itu setan jin dapat dengan mudah memancarkan perintah rahasia langsung di hati orang yang pernah kesurupan jin tersebut, agar setelah itu kehidupan orang tersebut rentan terkena gangguan setan jin baik fisik maupun pikiran hingga cenderung terlena dengan kehidupan duniawi yang memabukkan. Kita berlindung dari tipudaya setan yang terkutuk.

Mengapa semua itu bisa terjadi ?? Karena sesungguhnya aktifitas kehidupan jin sangat dekat dengan manusia. Bahkan urat darah manusia menjadi jalan jin menuju hati, dan lubang-lubang pada anggota tubuh manusia jadi tempat istirahat dan tempat tidur jin. Sebagian jin bahkan bermalam di lubang hidung di saat manusia sedang tidur. Rasulullah saw. telah mengabarkan dengan sabdanya:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Nabi s.a.w telah bersabda: Apabila seseorang dari kamu bangun dari tidur, hendaklah dia memasukkan air ke dalam hidung dan menghembusnya keluar sebanyak tiga kali karena sesungguhnya setan bermalam di dalam lubang hidungnya di saat manusia tidur .
•    Riwayat Bukhari di dalam Kitab Permulaan Kejadian hadits nomor 3052.
•    Riwayat Muslim di dalam Kitab Bersuci hadits nomor 351.
•    Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Bersuci hadist nomor 89.

Dan juga sabdanya:
حَدِيثُ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلًا فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ لِأَنْقَلِبَ فَقَامَ مَعِيَ لِيَقْلِبَنِي وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ ابْنِ زَيْدٍ فَمَرَّ رَجُلَانِ مِنَ الْأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ فَقَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَرًّا أَوْ قَالَ شَيْئًا
Diriwayatkan dari Sofiah binti Huyai r.a berkata: Pada suatu malam ketika Nabi s.a.w sedang beriktikaf aku datang menghampiri baginda. Setelah puas berbincang-bincang dengan baginda, akupun berdiri untuk pulang. Rasulullah s.a.w ikut berdiri untuk mengantarku. Tempat tinggal Sofiah adalah di rumah Usamah bin Zaid. Tiba-tiba datang dua orang Ansar. Ketika mereka melihat Nabi saw mereka mempercepatkan langkahnya. Lalu Nabi saw bersabda: Perlahankanlah langkahmu. Sesungguhnya ini adalah Sofiah binti Huyai. Kedua orang ansor itu berkata Maha suci Allah, wahai Rasulullah. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda Sesungguhnya setan itu berjalan pada aliran darah manusia. Sebenarnya aku khawatir ada tuduhan buruk atau yang tidak baik dalam hati kamu berdua *
1.    Riwayat Bukhori di dalam Kitab I’tikaf hadits nomor 1894, 1897, 1898. – Etika hadits nomor 5751.
2.    Riwayat Muslim di dalam Kitab Salam hadits nomor 4041.
3.    Riwayat Abu Dawud di dalam Kitab Etika hadits nomor 4342.
4.    Riwayat Ibnu Majah di dalam Kitab Puasa hadits nomor 1769.

Ketika ada sekelompok orang membaca dan mendengarkan ayat al-Qur’an dengan hati lalai karena cenderung mengikuti kehendak nafsu sambil pikirannya menerawang Jin karena takut dalam tubuhnya ada jin, terlebih lagi ketika tujuannya terkontaminasi kepentingan duniawi, baik pribadi maupun golongan, bahkan dengan bangga dan merasa paling benar sendiri hingga tidak segan-segan menyirikkan dan membid’ahkan amalan orang lain, maka secara otomatis sekelompok jin mendapat fasilitas untuk menguasai kesadaran mereka. Jin para penjaga manusia itu saling berebut mendapatkan point untuk dibanggakan kepada pimpinan mereka. Maka yang semestinya di dalam kesempatan lain pekerjaan untuk menguasai kesadaran manusia itu sulit dilakukan, di dalam pelaksanaan “Ruqyah” malah mendapat kemudahan. Terbukti dengan demikian mudahnya jin mengusai kesadaran mereka, sehingga seketika itu juga Jin menjadikan para pendengar yang khusu’ tersebut bergelimpangan bagaikan orang kena sihir. Berteriak-teriak seperti orang gila…. bahkan ada yang terkencing-kencing di tempat.

Mengapa perkerjaan mengerikan dan menjijikkan seperti itu dengan bangga mereka katakan mengobati orang sakit..?? Apakah para pelaku ruqyah itu tidak mengerti bahwa setelah orang kesurupan jin itu bisa berakibat menjadi orang berpenyakitan … ?? Dimana logikanya orang yang asalnya sadar menjadi kesurupan jin dikatakan mengeluarkan jin dari tubuhnya …?? Barangkali perlu ada perenungan terhadap pelaksanaan ruqyah tersebut, sebelum lebih banyak lagi orang jadi korban dari akibat ketidaktahuan ini.
Oleh Muhammad Luthfi Ghozali

Syarah Hikam Bab 9, MENUTUP DIRI AGAR TUMBUH KUAT


 

اِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِى اَرْضِ الخُمُوْلِ  فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَايَتِمُّ نَتَائِجُهُ.

 Tanamlah wujud dirimu di dalam tanah yang dalam, segala yang tumbuh dari yang tidak ditanam, pertumbuhannya tidak akan menjadi sempurna.

Allah berfirman:
 أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”. (QS. ar-Ra’d; 13/17)

Dengan ayat di atas, Allah membuat perumpamaan terhadap ilmu pengetahuan dan pemahaman hati yang diturunkan-Nya di dalam dada seorang hamba. Bagaikan air hujan diturunkan dari langit memenuhi lembah-lembah, hati seorang hamba menampung ilmu dan pemahaman dari Allah sesuai kemampuan, seperti lembah-lembah di bumi menampung air hujan sesuai kadar ukurannya. Ilmu dan pemahaman itu di dalam jiwa seorang hamba akan menimbulkan arus atau reaksi, yakni gejolak di alam fikir untuk mencari kebenaran hakiki. Adapun yang di luar dada akan menimbulkan buih. Yaitu ingin dilihat dan ingin dipuji, merasa berjasa dan ingin diakui dan bahkan merasa benar sendiri. Seperti logam yang mereka lebur di dalam api untuk membuat perhiasan atau peralatan, di situ juga mengeluarkan buih. Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batal.

Apa-apa yang kelihatan di permukaan dari amal yang dilakukan akan menjadi buih dan batil sedangkan gejolak ilmu pengetahuan yang ada di dalam alam fikir adalah benar. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya, sedangkan pemahaman dalam hati, atau ma’rifat dengan Allah akan bermanfaat bagi manusia apabila keberadaannya tetap dirahasiakan di dalam hati. Oleh karena itu, tanamlah wijhahmu di dalam tanah yang dalam dan rahasiakan potensi-potensi kebaikan dari pengakuan basyariyah, bagaikan menanam benih, tanamlah seaman mungkin supaya tidak dimakan binatang liar sebelum tumbuh.

Kalau harus ada amal yang terpaksa dilihatkan kepada orang, maka yang kelihatan itu hanya sekedar buih, sebagai tanda-tanda bahwa di dalam sedang ada arus dan arus itu adalah proses pematangan iman dan keyakinan. Oleh karenanya, tampakkan yang tampak dan rahasiakan yang rahasia, dan masing-masing akan membawa manfat asal dapat terjaga dan terpelihara dengan semestinya. Namun demikian, seorang hamba tetap harus sadar, yang akan membawa manfaat hanya yang dirahasiakan. Karena segala yang tumbuh dari yang tidak ditanam pasti tidak akan dapat tumbuh secara sempurna.

Orang boleh menampakkan amalnya, tapi jangan berharap amal yang tampak itu membawa manfaat. Sebab, yang tampak itu telah menjadi buih yang kemudian akan segera hilang dengan tanpa membekas, bagaikan debu yang berterbangan dihembus angin. Angin itu boleh bermacam-macam wujudnya, ada yang disebut riya’, ada yang disebut menyebut-nyebut kembali, berbangga-banggaan, sombong dan lain sebagainya.

Hati manusia tidak selalu mampu diam ketika kebaikannya dilihat orang. Hati cenderung ingin berbicara, karena sekarang ia sedang berbuat kebaikan, maka hati sering berkata sendirian: “Lihatlah, aku saat ini memang pantas dipuji, paling tidak harus diakui, aku telah berbuat untuk menolongmu, aku telah berjasa, seandainya tidak ada aku, siapa yang menolongmu? Oleh karena itu, apabila tidak ada yang memperhatikan amalnya, terlebih ketika kebaikannya tidak diterima dengan baik di hati orang, maka jadi kecewa dan marah.

Berdamai dengan diri sendiri, baik menghadapi senang maupun susah, memutus tali sandaran hati kepada selain yang menghidupi, baik sedang longgar maupun sempit, menanam hasrat, memendam keinginan, tenggelam dalam rasa kearifan samudera kehidupan yang tidak terbatas sampai hilang wajah dan muncul wajah lagi, ketika wajah bulan meredup maka segera sinar mentari membuka kehidupan.

Sungguh yang rapuh bukan amal yang kelihatan, tapi hati yang ingin dipuji dan diakui. Oleh karena hati telah menonjolkan diri, maka menjadi ringkih. Bagaikan benih padi ketika ditanam di tanah padas, walau setiap hari disiram dengan air hujan, tetap saja padi tersebut tidak akan tumbuh dan berkembang. Oleh karenanya biarkanlah yang kelihatan menjadi hilang, asal di dalamnya masih ada yang tersimpan, yaitu kasih sayang yang dibungkus dengan amal perbuatan.

Oleh Muhammad Luthfi Ghozali

Syarah Hikam Bab 7, TERBUKANYA MATAHATI UNTUK MENERIMA MA’RIFATULLAH



 

اِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَلِ مَعَهَا اِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَاِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ اِلَّا وَهُوَ يُرِيْدُ اَنْ يَتَعَرَّفَ اِلَيْكَ  اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَالأَعْمَالُ اَنْتَ مُهْدِيْهَا اِلَيْهِ , وَاَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ اِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ


Apabila Allah berkehendak membukakan wijhah hatimu untuk menerima ma’rifat, maka tidak peduli lagi walau amalmu sedikit, karena sesungguhnya apabila Allah telah membukanya semata-mata karena Allah berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepadamu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya ma’rifat itu didatangkan untukmu dan amalmu adalah bentuk persembahan untuk-Nya, maka mana yang lebih tinggi nilainya bagimu, apa yang datang darimu atau apa yang didatangkan kepadamu?.

Wijhah adalah buah ibadah seorang hamba.  Meski buah ibadah, wijhah semata hanya didatangkan Allah atas kehendak-Nya dan kepada yang dikehendaki-Nya, bukan sebab ilmu dan amal seorang hamba. Dengan wijhah seorang hamba dapat melaksanakan tawajjuh (menghadap dan wushul) kepadaNya hingga doa-doa dan permohonannya mendapatkan ijabah dari-Nya :

Allah Swt berfirman:
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Sesungguhnya aku menghadapkan hadapanku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan tidak menoleh kepada yang selain-Nya (hanifa) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan". (QS. al-An’am; 6/79)

Dengan wijhah seorang hamba akan mendapatkan kemuliaan dan kedekatan di sisi Tuhannya: “Seorang terkemuka (mempunyai wijhah) di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran; 45). Apabila pintu wijhah dalam hati sudah dibuka atau seorang hamba telah mendapatkan futuh ( terbukanya matahati), maka orang tersebut akan ber-ma’rifat dengan-Nya.

Ma’rifat artinya mengenal dan yang dimaksud adalah mengenal Allah Swt. (ma’rifatullah). Orang yang ma’rifatullah adalah orang yang kenal kepada Allah. Kenal nama-namaNya, sifat-sifatNya, kenal kepada kekuasaan dan pengaturan-Nya, kenal akhlak dan perbuatan-Nya. Mengenal baik secara rasional (teori ilmiah) maupun spiritual (perasaan dalam hati). Namun yang dimaksud ma’rifatullah dominan kepada kenal secara spiritualitas.

Seorang hamba yang ma’rifat adalah seorang hamba yang bertakwa kepada Tuhannya. Seorang hamba yang ma’rifat adalah seorang hamba sanggup berbuat benar dan tidak salah di hadapan Tuhannya. Karena ia tahu apa yang dikehendaki oleh Tuhannya untuk dirinya.

Semakin seorang hamba ber-ma’rifat kepada-Nya berarti menjadi semakin mencintai-Nya karena semakin mengenali dan merasakan kebaikan dan kasih sayang Allah kepada dirinya: “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”. (QS. Al- Qoshosh; 77)

Semakin seorang hamba mencintai Tuhannya berarti semakin mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki. Karena hanya kepada yang dicintai, orang akan mampu melaksanakan pengabdian dengan benar. Ketika semakin mampu melaksanakan pengabdian hakiki berarti derajatnya di sisi Allah akan menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, orang yang paling ber-ma’rifat dan paling bertakwa dan paling mulia di sisi Allah adalah Rasulullah Saw. karena Beliaulah orang paling mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya.

Untuk mencapai ma’rifatullah. Secara teori, seorang salik akan diperjalankan oleh tarbiyah Allah dengan dua cara:

1.   Kehendak dari atas ke bawah. Artinya, semata-mata atas kehendaknya, wijhah dalam hati—yang asalnya tertutup—dibuka oleh Allah. Hijab-hijab manusiawi yang menyelimuti matahati dihapuskan. Penutup pintu rahasia ketuhanan dibukakan. Seperti orang menyalakan lampu, yang asalnya gelap menjadi terang, yang asalnya tidak kenal menjadi kenal. Bagaikan mendung ketika sirna, matahari seakan berada di atas kepala. Karena Allah memang berkehendak mengenalkan diri kepada hamba-Nya, tidak dengan sebab yang lain, tidak dengan sebab amal ibadah yang sudah dikerjakan. Seorang hamba menjadi mengenal kepada-Nya semata-mata karena Allah adalah Dzat Yang Maujud;
قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ
 “Katakanlah : "Allah-lah” kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS. al-An’am; 6/91).

2.     Kehendak dari bawah kemudian ke atas. Artinya proses datangnya ma’rifatullah itu, terlebih dahulu seorang salik dikenalkan kepada makhluk-makhluk-Nya baru kemudian dikenalkan kepada Al-Khalik (penciptanya), Sebagaimana firman-Nya:

 إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (QS. 2; 164)

Pengenalan seorang hamba kepada Sang Pencipta langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar serta kemanfaatan-kemanfaatan yang dapat dimanfaatkan bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi.

Perhatian dan penelitian seorang hamba terhadap semua itu menghasilkan suatu kesimpulan, betapa Allah telah banyak berbuat baik kepada manusia, namun betapa pula banyak manusia yang tidak mengetahui, tidak menyadari bahkan ingkar dan kafir kapada-Nya. Hal tersebut menjadikan tumbuhnya rasa cinta yang mendalam kepada-Nya hingga mendorongnya untuk bertaubat dengan taubatan nasuha dan meningkatkan pengabdian kepada-Nya.

Ma’rifat pertama adalah ma’rifat yang langsung memancar dari hati dan ruh (rasa/spiritual) yang kemudian dipancarkan di dalam akal dan fikir (rasional ilmiah), hingga dapat teraktualisasikan melalui akhlak dan perbuatan. Karena seorang hamba telah terlebih dahulu dicintai Allah kemudian ia mencintainya. Ma’rifat pertama ini jauh lebih kuat dibandingkan ma’rifat yang kedua karena lebih hakiki. 

Ma’rifat yang kedua sesungguhnya ma’rifat hati (spiritualitas) juga, namun masuknya terlebih dahulu melalui akal dan fikir (rasionalitas). Pengenalan seorang hamba kepada kejadian-kejadian yang ada di bumi dan yang ada di langit menjadikannya mengenal kepada Sang Pencipta. Seperti orang mengenal tulis, akhirnya ingin mengenali penulisnya.

Meskipun jalan masuknya ma’rifat yang kedua ini melalui akal dan fikiran atau rasionalitas ke dalam rasa atau spiritualitas, namun demikian ketika sudah menduduki hati, masuknya ma’rifat hati tersebut semata-mata hanya atas kehendak Allah juga. Hanya saja kehendak yang terakhir itu didahului oleh kehendak-kehendak yang sebelumnya, sebagai proses untuk terjadinya hukum sebab dan akibat hingga seorang salik mendapatkan buah yang dipetik dari amal ibadah yang sudah dilakukan.

Masuknya ma’rifat hati itu bukan disebabkan adanya amal ibadah yang dilakukan, akan tetapi amal ibadah itulah yang dijadikan sebab untuk terpenuhi suatu proses pematangan ilmu dan amal hingga akhirnya sampai kepada akibat yang baik, yaitu pendewasaan akhlak mulia.

Amal ibadah adalah persembahan seorang hamba kepada Tuhannya sedangkan ma’rifat adalah pemberian dari-Nya, mana yang lebih tinggi nilainya? Oleh karenanya, apabila Allah berkehendak membukakan pintu wijhah hati seorang hamba untuk menerima Nur Ma’rifat, Allah tidak perduli walau hamba-Nya sedang lemah dan sedang sedikit amal ibadahnya.
Oleh Muhammad Luthfi Ghozali

Advertise