Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.[QS 27:88]

Ilmu yang membuat manusia lupa dari Al-Haq dan realitas, menurut Al-Quran sama dengan kebodohan

Mereka mengetahui hanya yang lahir dari kehidupan dunia, sedang terhadap kehidupan akhirat mereka lalai. (QS 30:7)

DIA mengajak untuk memikirkan penciptaan manusia sendiri, rahasia yang terdapat di dalam dirinya, untuk memikirkan alam batinnya dan hubungannya dengan Allah

Allah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak mereka ketahui.(QS 96:5)

Kemuliaan dan Ketinggian derajat ilmu.

ALLAH meninggikan beberapa derajat orang-orang yang BERIMAN dan mempunyai ILMU (QS 58:11)

Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur'an

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.(Al Qur'an, 21:33)

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

PUISI, INDONESIAKU sayang INDONESIAKU malang




Kepada siapakah aku titipkan INDONESIAKU…….?
Apakah kepada REFORMASI ?
Siapakah dia itu ? Apakah sang pendatang yang telah mampu memenggal tangan-tangan besi sang penguasa yang sudah terlalu lama membungkam setiap suara dengan kursi dan rupiah, kadang juga dengan peluru dan penjara.

Ataukah kepada sang pembaru yang suka membuka suara dengan rupiah untuk sebuah kursi kuasa.
Apakah dia REFORMASI, ketika aku melihat rahasia yang bukan rahasia. Ketika di mana-mana bahkan membudaya, ada rupiah berbicara di kursi-kursi yang mulia melalui tangan-tangan rahasia untuk membangun tahta sang calon penguasa.
Tapi ternyata masih juga sama, aku tidak mampu berbuat apa-apa meski lima ribu suara setiap hari menjerit di jalan raya.

Oh Indonesiaku, pernah aku mencoba menitipkan kamu di sekolah dan madrasah agar anak didik tidak turun lagi di jalan raya.
Di bangku tingkat dasar, kepada guru-guru yang setia, aku mencari lagu Indonesia Raya, ternyata yang kutemui irama bendera hasil produk nusantara.
Adakah rupiah juga berbicara kepada guru-guru mulia dan kepala sekolah? Mengapa ada Pepsodent, mengapa ada Milo, membuka pasar dadakan di bangku sekolah, sehingga sang pahlawan tanpa jasa itu ternyata menjadi juragan pasar musiman dan bahkan agen-agen rahasia penerbit buku dan percetakan .
Adakah yang harus lebih dulu dibersihkan selain bangku sekolah, kalau tingkat dasar saja sudah menjadi cidera. Maka jangan kamu tanya lagi, ketika di jalan raya suara peluit petugas kadang di situ juga urusan selesai dengan rupiah.

Juga di rumah sakit dan kamar dokter, orang masuk sakit di dada keluar menjadi sakit kepala, karena harga obat mencekit leher dan menghimpit isi kepala.
Apalagi di kantor-kantor pemerintah, dimana uang siluman konon beredar di mana-mana, menjadi pelicin agar peluang kerja terbuka. Bahkan meski sang koruptor sudah difonis di pengadilan bersalah, namun mereka masih bebas ngantor kapan saja.

Oh Indonesiaku, betapa malang potret wajahmu, saat orang lain di luar sana menyebutmu Negara koruptor terbesar di dunia.
Tapi aku percaya masih ada anak negri ini orang yang tetap peduli dan setia, walau dia hanya sorang diri dan tidak punya kuasa.

Apakah kepada suara Gus Dur yang sementara kursinya sedang tersungkur ataukah Akbar Tanjung yang suaranya masih kabur. Atau kepada yang hanya mau bicara, walau dimana, asal ada rupiah. Apakah kepada pemimpin yang suka beryanyi dan hura-hura, pamer budaya di hari merdeka, supaya orang-orang lupa persoalan yang tengah mendera Bangsa.

Atau kepada wajah-wajah baru yang bermunculan bagai cendawan di musin hujan, mendongkrak citra diri dengan biaya iklan tinggi, layaknya orang bermimpi menjadi pahlawan di siang hari, padahal belum tentu mengerti mau dibawa kemana negri tercinta ini.

Atau kepada serombongan partai yang baru dilahirkan, meski oleh induk semang yang sama tujuan, seperti orang bangun kesiangan, mengusap mata yang rabun dibuai harapan, bagaikan bis mencari penumpang dan sekaligus sopirnya di pinggir jalan, tidak peduli siapa asal punya uang.

Apakah kepada para Kiai mulia dan kharismatik, bak artis dan selebritis, marak gambarnya dipajang di pinggir jalan umum, dimanfaatkan mantan santri untuk mendulang suara di pemilihan umum, menggapai tahta dan ambisi pribadi namun hanya untuk mencarai untung.

Atau kepada amuk massa yang suka bentrok, membakar rumah dan membantai warga yang masih bertentangga sekedar karena beda pendapat dan calon pimpinan yang membayar dalam pilihan.

Atau kepada revolusi sosial agar rumput-rumput nakal tercabut seakar-akarnya, meski kemudian kita juga ikut binasa ditelan masa.

Kadang aku ingin menitipkanmu kepada Tuhan.
Tetapi aku juga ragu, apakah lonceng gereja atau beduk masjid dan musolla mampu tinggikan suara menyampaikan hasratnya.

Haruskah lewat istighotsah dan mujahadah yang terkadang juga masih berbau bendera. Kepentingan partai politik dan ambisi pribadi menjadi tujuan utama.

Atau dengan tangan lemah menengadah sendiri Panjatkan do’a

Wahai anak-anak negri tercinta
Jangan engkau terlena
Dimabuk harapan untuk menjadi Calon Penguasa
Lupa teman lupa lawan meski tidak punya sarana
Hingga sikut-sikutan menjadi tradisi dalam keluarga

Kita harus tetap waspada
Meski keadaan Negri dalam kondisi ramah
Bisa jadi mata teroris mengintai menunggu cela
Menebus nyawa yang pergi meninggalkan duka

Ya Allah, Tuhan alam semesta…
Berikanlah hamba-hamba-Mu hidayah

Harus kepada siapa
Kami titipkan INDONESIAKU yang sedang dirundung duka
2002 – 2008

SELAMAT JALAN MATAHARIKU


SELAMAT JALAN MATAHARIKU

Sang matahari dari timur telah kembali ke peraduannya
Meninggalkan hati-hati terlena
Menggugah perasaan terlelap dalam tidur panjang
Pergi menghadap Sang Paduka
Dengan ridho akan ridho-Nya
Menjemput yang sudah disiapkan disana
Meski semua mengatakan belum saatnya

Namun inilah kenyataan
Maka yang semua itu harus siap menerima
Karena tahapan tugas rupanya sudah paripurna
Disini, dalam bumi yang gersang ini
Seakan engkau tidak peduli kepada yang ada
Padahal kami belum banyak menduga
Kemana tinggalan ini harus dilanjutkan

Hamparan sawah yang butuh perawatan
Gedung-gedung megah yang terasa ikut berduka
Seperti hati kami yang seakan putus asa
Kami melolong, menangis bagai itik ditinggal induk semang
Kehilangan padahal dulu kurang memanfaatkan kemudahan
Namun engkau tanpa menoleh berjalan melenggang
Dijemput teman-temanmu yang sudah lama merindukan
Berjalan seiring meninggalkan batas perpisahan
Bersama-sama menggapai apa yang sudah dijanjikan
Karena dulu perjalanan telah ditempuh dengan penuh persiapan

Barangsiapa mendekat dalam lahir
Maka yang dituju itu kini telah sirna
Barangsiapa memandang dengan syahwat
Maka yang dinikmati itu kini hilang entah kemana
Barangsiapa terlena dalam gendongan
Maka selendang itu kini akan jadi rebutan
Barangsiap bernaung dalam keteduhan
Maka pohon rindang itu antah pergi kemana

Hati terkaget meski tidak berdaya
Pikiran menerawang jauh karena hidup menjadi tidak bermakna
Adapun yang mendekat kepada ilmu dan akhlak mulia
Kharismah ruhaniah yang memancar abadi sepanjang masa
Amaliyah yang tergurat kuat dalam lembar kain sutra
Disulam dalam permadani dengan permata dan mutiara
Digurat dalam mushab dan kitab yang terjaga

Meski kini nafasnya tidak lagi memancar dari sumbernya
Namun kapan saja akan terpancarkan dalam setiap ronga dada
Asal tapak tilas itu diikuti dengan hati selamat dan terjaga
Bersih dari penyakit-penyakit manusiawi yang dapat mengotori matahati dan jiwa

Selamat jalan sang matahari zaman
Dengan segala kebahagiaan yang engkau dapatkan
Meski meningalkan duka-duka mendalam
Disini, di tanah-tanah yang engkau bajak selama ini
Semoga bibit yang engkau tanam
Tumbuh menjadi pohon rindang dan berbuah
Dalam setiap hamparan isi dada
Anak-anak asuh yang seakan baru terjaga
Terlena dari mimpi-mimpi panjang yang melalaikan
Padahal kami masih butuh air yang selama ini engkau kucurkan
Kehidupan yang telah membangkitkan kehidupan

GURU SEJATI



GURU SEJATI
Ada gugusan rindu membara
Adakah seteguk air yang telah engkau minumkan
Atau sebutir biji yang engkau tanam
Di dalam lubuk hati ini
Yang telah lama terlupakan dan gersang
Adakah setetes air hujan
Menjadikannya kembali hidup dan bersemi
Burung pipit tersenyum
Mengajak lari
Menyambut pagi
Aku bangun
Mencoba melangkah mengikuti
Tapi kaki enggan berdiri
Mentari bersinar cerah
Menembus sekat pintu
Membuka daun cendela
Tapi mata yang terlanjur rabun
Menjadi semakin buram
Kau datang guru
Dalam mimpiku di siang hari
Sinarmu kuat
Menarik tanganku
Kau datang lagi guru
Dalam mimpiku di siang hari
Bersama pasukanmu
Meratakan jalan
Menyingkirkan rintangan
Aku yang telanjang
Tuli, bisu, buta
Sendiri
Tertatih – tatih
Melangkah searah
Mengikuti isyaratmu
Adakah sinarmu,
Sinari aku ?
Adakah kuatmu,
Kuati aku ?
Aku bangun lagi
Melangkah semakin mendaki
Kau datang lagi guru
Saat aku rindui
Kini di depanku ada keretamu
Siap membawaku
Menuju maumu
1997 * tatkala rindu menghantui, datang sinar memetik jemari

Oleh karena ilmu, amal dan akhlak mulia para Guru sejati itu mampu menjadi penerang bagi kehidupan umat, maka dimana saja berada mereka diterima dan diikuti sebagai pemimpin manusia yang multi guna.
Karena “Nur Cinta” disambut dengan cinta, sehingga melahirkan “nur cinta” lagi, itulah “Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki”.

Advertise