Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.[QS 27:88]

Ilmu yang membuat manusia lupa dari Al-Haq dan realitas, menurut Al-Quran sama dengan kebodohan

Mereka mengetahui hanya yang lahir dari kehidupan dunia, sedang terhadap kehidupan akhirat mereka lalai. (QS 30:7)

DIA mengajak untuk memikirkan penciptaan manusia sendiri, rahasia yang terdapat di dalam dirinya, untuk memikirkan alam batinnya dan hubungannya dengan Allah

Allah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak mereka ketahui.(QS 96:5)

Kemuliaan dan Ketinggian derajat ilmu.

ALLAH meninggikan beberapa derajat orang-orang yang BERIMAN dan mempunyai ILMU (QS 58:11)

Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur'an

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.(Al Qur'an, 21:33)

Tampilkan postingan dengan label Kajian Hikam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Hikam. Tampilkan semua postingan

Syarah Hikam Bab 9, MENUTUP DIRI AGAR TUMBUH KUAT


 

اِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِى اَرْضِ الخُمُوْلِ  فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَايَتِمُّ نَتَائِجُهُ.

 Tanamlah wujud dirimu di dalam tanah yang dalam, segala yang tumbuh dari yang tidak ditanam, pertumbuhannya tidak akan menjadi sempurna.

Allah berfirman:
 أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”. (QS. ar-Ra’d; 13/17)

Dengan ayat di atas, Allah membuat perumpamaan terhadap ilmu pengetahuan dan pemahaman hati yang diturunkan-Nya di dalam dada seorang hamba. Bagaikan air hujan diturunkan dari langit memenuhi lembah-lembah, hati seorang hamba menampung ilmu dan pemahaman dari Allah sesuai kemampuan, seperti lembah-lembah di bumi menampung air hujan sesuai kadar ukurannya. Ilmu dan pemahaman itu di dalam jiwa seorang hamba akan menimbulkan arus atau reaksi, yakni gejolak di alam fikir untuk mencari kebenaran hakiki. Adapun yang di luar dada akan menimbulkan buih. Yaitu ingin dilihat dan ingin dipuji, merasa berjasa dan ingin diakui dan bahkan merasa benar sendiri. Seperti logam yang mereka lebur di dalam api untuk membuat perhiasan atau peralatan, di situ juga mengeluarkan buih. Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batal.

Apa-apa yang kelihatan di permukaan dari amal yang dilakukan akan menjadi buih dan batil sedangkan gejolak ilmu pengetahuan yang ada di dalam alam fikir adalah benar. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya, sedangkan pemahaman dalam hati, atau ma’rifat dengan Allah akan bermanfaat bagi manusia apabila keberadaannya tetap dirahasiakan di dalam hati. Oleh karena itu, tanamlah wijhahmu di dalam tanah yang dalam dan rahasiakan potensi-potensi kebaikan dari pengakuan basyariyah, bagaikan menanam benih, tanamlah seaman mungkin supaya tidak dimakan binatang liar sebelum tumbuh.

Kalau harus ada amal yang terpaksa dilihatkan kepada orang, maka yang kelihatan itu hanya sekedar buih, sebagai tanda-tanda bahwa di dalam sedang ada arus dan arus itu adalah proses pematangan iman dan keyakinan. Oleh karenanya, tampakkan yang tampak dan rahasiakan yang rahasia, dan masing-masing akan membawa manfat asal dapat terjaga dan terpelihara dengan semestinya. Namun demikian, seorang hamba tetap harus sadar, yang akan membawa manfaat hanya yang dirahasiakan. Karena segala yang tumbuh dari yang tidak ditanam pasti tidak akan dapat tumbuh secara sempurna.

Orang boleh menampakkan amalnya, tapi jangan berharap amal yang tampak itu membawa manfaat. Sebab, yang tampak itu telah menjadi buih yang kemudian akan segera hilang dengan tanpa membekas, bagaikan debu yang berterbangan dihembus angin. Angin itu boleh bermacam-macam wujudnya, ada yang disebut riya’, ada yang disebut menyebut-nyebut kembali, berbangga-banggaan, sombong dan lain sebagainya.

Hati manusia tidak selalu mampu diam ketika kebaikannya dilihat orang. Hati cenderung ingin berbicara, karena sekarang ia sedang berbuat kebaikan, maka hati sering berkata sendirian: “Lihatlah, aku saat ini memang pantas dipuji, paling tidak harus diakui, aku telah berbuat untuk menolongmu, aku telah berjasa, seandainya tidak ada aku, siapa yang menolongmu? Oleh karena itu, apabila tidak ada yang memperhatikan amalnya, terlebih ketika kebaikannya tidak diterima dengan baik di hati orang, maka jadi kecewa dan marah.

Berdamai dengan diri sendiri, baik menghadapi senang maupun susah, memutus tali sandaran hati kepada selain yang menghidupi, baik sedang longgar maupun sempit, menanam hasrat, memendam keinginan, tenggelam dalam rasa kearifan samudera kehidupan yang tidak terbatas sampai hilang wajah dan muncul wajah lagi, ketika wajah bulan meredup maka segera sinar mentari membuka kehidupan.

Sungguh yang rapuh bukan amal yang kelihatan, tapi hati yang ingin dipuji dan diakui. Oleh karena hati telah menonjolkan diri, maka menjadi ringkih. Bagaikan benih padi ketika ditanam di tanah padas, walau setiap hari disiram dengan air hujan, tetap saja padi tersebut tidak akan tumbuh dan berkembang. Oleh karenanya biarkanlah yang kelihatan menjadi hilang, asal di dalamnya masih ada yang tersimpan, yaitu kasih sayang yang dibungkus dengan amal perbuatan.

Oleh Muhammad Luthfi Ghozali

Syarah Hikam Bab 7, TERBUKANYA MATAHATI UNTUK MENERIMA MA’RIFATULLAH



 

اِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَلِ مَعَهَا اِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَاِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ اِلَّا وَهُوَ يُرِيْدُ اَنْ يَتَعَرَّفَ اِلَيْكَ  اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَالأَعْمَالُ اَنْتَ مُهْدِيْهَا اِلَيْهِ , وَاَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ اِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ


Apabila Allah berkehendak membukakan wijhah hatimu untuk menerima ma’rifat, maka tidak peduli lagi walau amalmu sedikit, karena sesungguhnya apabila Allah telah membukanya semata-mata karena Allah berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepadamu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya ma’rifat itu didatangkan untukmu dan amalmu adalah bentuk persembahan untuk-Nya, maka mana yang lebih tinggi nilainya bagimu, apa yang datang darimu atau apa yang didatangkan kepadamu?.

Wijhah adalah buah ibadah seorang hamba.  Meski buah ibadah, wijhah semata hanya didatangkan Allah atas kehendak-Nya dan kepada yang dikehendaki-Nya, bukan sebab ilmu dan amal seorang hamba. Dengan wijhah seorang hamba dapat melaksanakan tawajjuh (menghadap dan wushul) kepadaNya hingga doa-doa dan permohonannya mendapatkan ijabah dari-Nya :

Allah Swt berfirman:
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Sesungguhnya aku menghadapkan hadapanku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan tidak menoleh kepada yang selain-Nya (hanifa) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan". (QS. al-An’am; 6/79)

Dengan wijhah seorang hamba akan mendapatkan kemuliaan dan kedekatan di sisi Tuhannya: “Seorang terkemuka (mempunyai wijhah) di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran; 45). Apabila pintu wijhah dalam hati sudah dibuka atau seorang hamba telah mendapatkan futuh ( terbukanya matahati), maka orang tersebut akan ber-ma’rifat dengan-Nya.

Ma’rifat artinya mengenal dan yang dimaksud adalah mengenal Allah Swt. (ma’rifatullah). Orang yang ma’rifatullah adalah orang yang kenal kepada Allah. Kenal nama-namaNya, sifat-sifatNya, kenal kepada kekuasaan dan pengaturan-Nya, kenal akhlak dan perbuatan-Nya. Mengenal baik secara rasional (teori ilmiah) maupun spiritual (perasaan dalam hati). Namun yang dimaksud ma’rifatullah dominan kepada kenal secara spiritualitas.

Seorang hamba yang ma’rifat adalah seorang hamba yang bertakwa kepada Tuhannya. Seorang hamba yang ma’rifat adalah seorang hamba sanggup berbuat benar dan tidak salah di hadapan Tuhannya. Karena ia tahu apa yang dikehendaki oleh Tuhannya untuk dirinya.

Semakin seorang hamba ber-ma’rifat kepada-Nya berarti menjadi semakin mencintai-Nya karena semakin mengenali dan merasakan kebaikan dan kasih sayang Allah kepada dirinya: “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”. (QS. Al- Qoshosh; 77)

Semakin seorang hamba mencintai Tuhannya berarti semakin mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki. Karena hanya kepada yang dicintai, orang akan mampu melaksanakan pengabdian dengan benar. Ketika semakin mampu melaksanakan pengabdian hakiki berarti derajatnya di sisi Allah akan menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, orang yang paling ber-ma’rifat dan paling bertakwa dan paling mulia di sisi Allah adalah Rasulullah Saw. karena Beliaulah orang paling mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya.

Untuk mencapai ma’rifatullah. Secara teori, seorang salik akan diperjalankan oleh tarbiyah Allah dengan dua cara:

1.   Kehendak dari atas ke bawah. Artinya, semata-mata atas kehendaknya, wijhah dalam hati—yang asalnya tertutup—dibuka oleh Allah. Hijab-hijab manusiawi yang menyelimuti matahati dihapuskan. Penutup pintu rahasia ketuhanan dibukakan. Seperti orang menyalakan lampu, yang asalnya gelap menjadi terang, yang asalnya tidak kenal menjadi kenal. Bagaikan mendung ketika sirna, matahari seakan berada di atas kepala. Karena Allah memang berkehendak mengenalkan diri kepada hamba-Nya, tidak dengan sebab yang lain, tidak dengan sebab amal ibadah yang sudah dikerjakan. Seorang hamba menjadi mengenal kepada-Nya semata-mata karena Allah adalah Dzat Yang Maujud;
قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ
 “Katakanlah : "Allah-lah” kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.(QS. al-An’am; 6/91).

2.     Kehendak dari bawah kemudian ke atas. Artinya proses datangnya ma’rifatullah itu, terlebih dahulu seorang salik dikenalkan kepada makhluk-makhluk-Nya baru kemudian dikenalkan kepada Al-Khalik (penciptanya), Sebagaimana firman-Nya:

 إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (QS. 2; 164)

Pengenalan seorang hamba kepada Sang Pencipta langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar serta kemanfaatan-kemanfaatan yang dapat dimanfaatkan bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi.

Perhatian dan penelitian seorang hamba terhadap semua itu menghasilkan suatu kesimpulan, betapa Allah telah banyak berbuat baik kepada manusia, namun betapa pula banyak manusia yang tidak mengetahui, tidak menyadari bahkan ingkar dan kafir kapada-Nya. Hal tersebut menjadikan tumbuhnya rasa cinta yang mendalam kepada-Nya hingga mendorongnya untuk bertaubat dengan taubatan nasuha dan meningkatkan pengabdian kepada-Nya.

Ma’rifat pertama adalah ma’rifat yang langsung memancar dari hati dan ruh (rasa/spiritual) yang kemudian dipancarkan di dalam akal dan fikir (rasional ilmiah), hingga dapat teraktualisasikan melalui akhlak dan perbuatan. Karena seorang hamba telah terlebih dahulu dicintai Allah kemudian ia mencintainya. Ma’rifat pertama ini jauh lebih kuat dibandingkan ma’rifat yang kedua karena lebih hakiki. 

Ma’rifat yang kedua sesungguhnya ma’rifat hati (spiritualitas) juga, namun masuknya terlebih dahulu melalui akal dan fikir (rasionalitas). Pengenalan seorang hamba kepada kejadian-kejadian yang ada di bumi dan yang ada di langit menjadikannya mengenal kepada Sang Pencipta. Seperti orang mengenal tulis, akhirnya ingin mengenali penulisnya.

Meskipun jalan masuknya ma’rifat yang kedua ini melalui akal dan fikiran atau rasionalitas ke dalam rasa atau spiritualitas, namun demikian ketika sudah menduduki hati, masuknya ma’rifat hati tersebut semata-mata hanya atas kehendak Allah juga. Hanya saja kehendak yang terakhir itu didahului oleh kehendak-kehendak yang sebelumnya, sebagai proses untuk terjadinya hukum sebab dan akibat hingga seorang salik mendapatkan buah yang dipetik dari amal ibadah yang sudah dilakukan.

Masuknya ma’rifat hati itu bukan disebabkan adanya amal ibadah yang dilakukan, akan tetapi amal ibadah itulah yang dijadikan sebab untuk terpenuhi suatu proses pematangan ilmu dan amal hingga akhirnya sampai kepada akibat yang baik, yaitu pendewasaan akhlak mulia.

Amal ibadah adalah persembahan seorang hamba kepada Tuhannya sedangkan ma’rifat adalah pemberian dari-Nya, mana yang lebih tinggi nilainya? Oleh karenanya, apabila Allah berkehendak membukakan pintu wijhah hati seorang hamba untuk menerima Nur Ma’rifat, Allah tidak perduli walau hamba-Nya sedang lemah dan sedang sedikit amal ibadahnya.
Oleh Muhammad Luthfi Ghozali

Syarah Hikam Bab 8, JENIS AMAL MENENTUKAN JENIS WARID





تَنَوَّعَتْ اَجْنَاسُ الأَعْمَالِ لِتَنَوُّعِ وَارِدَاتِ الأَحْوَالِ, الأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ وَاَرْوَاحُهاَ وُجُوْدُ سِرِّ الاِخْلَاصِ فِيْهَا

Beraneka macamnya jenis amal supaya terjadi beraneka macamnya jenis warid yang masuk (dalam hati), maka beberapa amal adalah yang membentuk keadaan dan ruhnya adalah adanya ikhlas yang dirahasiakan dalam amal.

Warid adalah buah wirid. Jika wirid ibarat menanam pohon, maka warid adalah buah yang bisa dipetik dari pohon tersebut. Seperti orang menanam mangga misalnya, orang tersebut tidak mungkin dapat menuai buah nanas atau buah yang lainnya. Bahkan dengan jenis bibit mangga tertentu, sampai kapanpun orang tersebut akan menuai buah mangga sejenisnya, tidak bisa menuai jenis mangga yang berbeda. Kalau ada rasa yang berbeda, itu semata karena beda jenis tanah dan musimnya, tapi jenis buahnya tetap sama. Jika sifat menanam bibit di tanah bumi seperti itu keadaannya, maka menanam bibit di tanah hati seorang salik juga demikian.

Dengan wirid jenis amal tertentu, salik akan mendapatkan jenis warid tertentu pula. Kalau ada hasil warid yang beda kuwalitas, itu disebabkan karena beda kuwalitas hati dan niat pelakunya. Orang wirid manaqib misalnya, dia akan mendapatkan warid dari SIRRnya manaqib, orang wirid maulid akan mendapatkan warid dari SIRRnya maulid, masing-masing salik akan mendapatkan jenis warid sesuai dengan jenis wirid yang dilakukan, kalau ada beda kuwalitas warid padahal orang melakukan wirid yang sama, itu karena beda kuwalitas manusia dan hatinya.

Allah adalah Dzat Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Meskipun demikian, jalan masuk menuju terbukanya pintu wijhah dalam hati seorang hamba untuk mendapatkan ma’rifatullah banyak pilihan. Melalui sembilan puluh sembilan nama-nama-Nya, seorang salik mampu mempergunakannya sebagai landasan wirid guna mendapatkan warid dari-Nya. Dengan landasan Nama-Nama tersebut, akan menimbulkan nuansa dan rasa yang khusus di dalam hati pengendaranya. Dengan wirid Ar-Rohman misalnya salik bisa mendapatkan warid rasa welas kepada manusia dan dengan Al-Jabbar, salik bisa mendapatkan warid perkasa dalam hatinya.

Hati manusia hanya satu, berada di dalam rongga yang satu, secara khusus juga hanya mampu menerima warid yang satu. Namun demikian, yang satu itu boleh dimasuki dengan jenis wirid dengan banyak pilihan, namun akhirnya warid yang masuk secara khusus hanya satu, yaitu yang menyatu dengan Yang Satu.

Adapun pilihan amal, bagaikan pilihan kendaraan yang akan dinaiki hati menuju Yang Satu. Tinggal hati memilih amal mana yang dapat bersesuaian dengan kondisi hatinya. Oleh karena itu, shalat, zakat, puasa dan haji adalah bagaikan kendaraan yang dikendarai hati untuk menuju keharibaan-Nya. Memasuki istana-Nya, mendengarkan musik-Nya, makan buah-buahan-Nya, minum arak dan air susu-Nya.

Masing-masing kendaraan dengan kondisi yang serasi akan menghantarkan hati merasakan kenikmatan hakiki, manakala perjalanan salik benar-benar sampai (wushul) kepada Yang Satu secara hakiki. Itulah kenikmatan berinteraksi dan berkomunikasi secara pribadi dengan Kekasih yang dirindui.

Seorang hamba boleh memilih diantara kendaraan yang tersedia tersebut, mencicipi secara bergantian untuk menentukan mana yang paling cocok bagi keadaan hati, asal harus sadar, masing-masing kendaraan, untuk dapat mengantarkan perjalanan sampai kepada tujuan, haruslah hanya dengan berlandasan satu, yaitu rahasia keikhlasan hati dalam beramal, karena kekhususan amal akan membentuk kekhususan warid sedangkan rahasia keikhlasan hati, adalah ruh yang menghidupkan amal.

Jadi, memilih jalan mengabdi kepada Allah itu boleh dengan berbagai pilihan, boleh dengan shalat, puasa, haji, shadaqah, dzikir dan perjuangan serta pengabdian. Jika semua itu dilaksanakan dengan landasan hati ikhlas, masing-masing kendaraan akan menumbuhkan keyakinan, meski jenis keyakinan itu bisa berbeda. Keyakinan hati itu menurut istilah sufi dinamakan khususiyah. Oleh karenanya, setiap hamba yang sholeh atau para waliyullah pasti mempunyai khususiah yang berbeda dengan yang lainnya.

Jadi, orang berthorioqh hanya boleh mengikuti satu jalan, mengikuti satu guru Mursyid yang dicocoki hati dan perasan, tidak boleh mengikuti thoriqoh dan guru mursyid lebih dari satu, karena dengan thoriqoh lebih dari satu, mustahil salik bisa mendapatkan warid dari wirid yang dilakukan. Oleh karena yang dituju hanya satu maka mustahil orang bisa mencapainya dengan jalan lebih dari satu :

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آَلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arasy daripada apa yang mereka sifatkan. (QS.Al-Anbiya’/22)


Oleh Muhammad Luthfi Ghozali.

JANGAN PUTUS ASA KEPADA ALLAH



لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ اَمَدِ العَطَاءِ مَعَ الاِلْحَاحِ فِى الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لك الاِجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ وَفِى الوَقْتِ الَّذِى يُرِدُ لَا فِى الوَقْتِ الَّذِى تُرِيْدُ

“Tertundanya pemberian setelah do’a itu dipanjatkan dengan berulang-ulang jangan menimbulkan putus asamu kepada Allah, sebab Allah telah menjamin diterimanya do’a, akan tetapi mengikuti pilihan Allah untukmu bukan mengikuti pilihanmu untuk dirimu dan di dalam waktu yang dikehendaki Allah bukan di dalam waktu yang engkau kehendaki”.

Berdo’a adalah salah satu kewajiban seorang hamba kepada Tuhannya dan Allah Swt berjanji akan mengabulkan do’a-do’a tersebut sebagaimana firmanNya: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. 40; 60)

Ketika seorang hamba berdo’a kepada Allah, terlebih apabila do’a itu dilakukan secara istiqamah, maka pasti do’a itu akan dikabulkan. Karena Allah sudah berjanji, dan sedikitpun Allah tidak akan mengingkari janji-janji-Nya. Namun demikian, do’a-do’a yang dipanjatkan itu haruslah memenuhi syarat sebagai do’a yang dikabulkan. Rasulullah Saw menegaskan dalam sabdanya: “Setiap do’a yang dipanjatkan oleh seorang hamba kepada Allah asal tidak tercampur dengan dosa dan memutuskan tali silaturrahmi, do’a itu akan dikabulkan dalam tiga pilihan:(1) Diturunkan seketika di dunia dalam bentuk pemberian sesuai dengan permintaan; (2) Dijadikan simpanan di akhirat sebagai kafarat dari dosa-dosanya; (3) Digantikan sebagai ganti musibah yang tidak jadi diturunkan demi keselamatannya.” (atau yang searti dengannya).

Oleh karena itu, setelah do’a-do’a tersebut dipanjatkan, hendaknya seorang hamba yakin bahwa do’a-do’anya akan dikabulkan Allah, walau dalam tiga pilihan yang masih dirahasiakan tersebut. Hanya Allah yang Memilih, Menghendaki dan Mengetahuinya. Allah berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. al-Baqoroh; 2/186)

As-Syaikh Ibnu Athaillah Ra meneruskan:

لَا يُشَكِّكَنَّكَ فِى الوَعْدِ عَدَمَ وُقُوْعِ المَوْعُوْدِ وَاِنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ لِئَلّاَ يَكُوْنَ ذَلِكَ قَدْحًا فِى بَصِيْرَتِكَ وَاِخْمَادًا لِنُوْرِ سَرِيْرَتِكَ

“Jangan sekali-kali meragukan janji Allah karena belum terpenuhinya janji itu walau batas pelaksanaannya sudah sangat dekat, supaya yang demikian itu tidak menjadikan redupnya sinar mata hatimu dan memadamkan cahaya rahasia batinmu”.
           
Allah Lebih Mengetahui akan keadaan hamba-hamba-Nya, baik urusan dunia, agama maupun akhirat, terlebih urusan rizki-rizki bagi mereka, karena dengan urusan rizki-rizki itu manusia akan menjadi selamat atau tidak. Allah tidak mengingkari janji-Nya bahwa setiap hamba-Nya yang berdo’a dengan benar kepada-Nya pasti dikabulkan. Sebagaimana ditegaskan oleh firman-Nya:  “Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tapi kebanyakan manusia tak mengetahui”. (QS. 30; 6)

Namun demikian, bagi hamba-hamba beriman—berkat kasih sayang-Nya yang dalam kepada mereka—apa saja yang diberikan kepadanya haruslah yang menjadikan mereka lebih baik. dalam hal ini Allah adalah yang lebih mengetahuinya. Allah menegaskan dengan firman-Nya : “Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat”. (QS. 42; 27)

Oleh karena itu, jika ada janji Allah yang seakan-akan belum terpenuhi, padahal menurut pengetahuan dan perasaan seorang hamba yang sedang terdesak, seharusnya saat terpenuhinya janji itu sudah sangat mendesak, bahkan sudah tidak ada waktu lagi untuk tertunda. Meskipun keadaannya demikian, janganlah menjadikan hati seorang hamba ragu kepada Allah .

Siap Menerima Kenyataan
Bagaimanapun keadaan yang akan dan sedang terjadi, hati seorang hamba yang beriman hendaknya tetap yakin serta siap menghadapinya, bahwa apa saja yang dikehendaki Allah pastilah yang terbaik untuk dirinya. Supaya matahati dan cahaya rahasia batin tidak menjadi redup dan padam. Sebab, ketika ujian-ujian hidup itu sudah cukup menurut pandangan Allah, dan ketika seorang hamba telah melewatinya dengan nilai yang baik, maka problematika kehidupan dan bahkan konflik-konflik horizontal yang telah berlalu, sesungguhnya merupakan proses masuknya ilmu pengetahuan dalam hati yang tinggi nilainya. Itulah ilmu rasa, ilmu pengetahuan yang dapat mematangkan jiwa manusia. Ilmu pengetahuan yang mampu menebalkan keyakinan, membakar lapisan kabut hati sehingga menjadikan matahati seorang hamba semakin cemerlang dengan Nur Ma’rifat kepada Allah.

Hanya dengan cara seperti itulah Allah memperjalankan kehidupan para hamba pilihan-Nya dan bahkan para nabi dan rasul-Nya. Diperjalankan dengan realita kehidupan yang sesungguhnya, menghadapi kesulitan dan tantangan serta goncangan-goncangan hidup yang berat: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS. al Baqoroh; 214) Namun demikian, ketika keadaan benar-benar telah mendesak baru pertolongan-Nya diturunkan, karena sungguh sedikitpun Allah tidak akan mengingkari janji-Nya.

Oleh : Muhammad Luthfi Ghozali

ANTARA JAMINAN DAN KEWAJIBAN


           
اِجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرِكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَى اِنْطِمَاسِ البَصِيْرَةِ مِنْكَ

“Kesungguhan dalam mengusahakan sesuatu yang sudah terjamin bagimu dan keteledoran dalam menjaga apa yang diwajibkan bagimu, menunjukkan tanda-tanda bahwa mata hatimu dalam
keadaan tertutup”.

Sungguh seluruh makhluk baik yang di langit maupun di bumi hanya tercipta untuk manusia bukan sebaliknya. Artinya hikmah penciptaan Alam dan isinya hanya diperuntukkan bagi kebutuhan hidup manusia: “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.” (QS. al-Jatsiyah; 13)

Manusia bukan diciptakan untuk malaikat dan jin tapi malaikat dan jinlah diciptakan untuk manusia. Nabi Muhammad Saw bukan diciptakan untuk melayani malaikat Jibril, tapi sebaliknya malaikat Jibril tercipta untuk melayani Nabi Muhammad Saw. Terlebih lagi makhluk yang ada di muka bumi, sungguh mereka semua tercipta hanya untuk kebutuhan hidup manusia, bukan sebaliknya. Di udara dengan aneka macam burung-burung dan di bumi dengan tumbuhan dan hewan, demikian juga di laut dengan ikan-ikannya. Semua itu ditebarkan dengan melimpah ruah hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Kalau seluruh makhluk tercipta untuk manusia maka manusia sesungguhnya hanya tercipta untuk mengabdi kepada Allah Swt: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat; 56) Artinya, dengan rizki-rizki yang sudah dikuasai, bagaimana manusia dapat mempergunakannya untuk mengabdi kepada Allah Swt.


Tiga Jenis Rizki dan Tiga Jenis Kebutuhan Hidup
Secara umum rizki yang disediakan Allah bagi manusia ada tiga macam:

1.    Rizki yang dijamin. Rizki yang dijamin ini bukan hanya untuk manusia saja, namun juga seluruh makhluk yang ada. Yaitu rizki-rizki yang sudah tersedia dan ditebarkan Allah di muka bumi, meski cara mendapatkannya harus dengan jalan usaha (ikhtiar). Allah telah ditegaskan dengan firman-Nya:  “Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu”. (QS. 15; 21)
Betapapun kerasnya orang berusaha dan kemudian mendapatkan hasil dari usahanya, rizki yang didapat itu sesungguhnya sudah disiapkan baginya. Seandainya rizki-rizki tersebut tidak tersedia sebelumnya, mustahil bagi orang tersebut bisa mendapatkannya? Seperti orang menanam benih dan tumbuh menjadi tanaman misalnya, seandainya tanah yang ditanami benih itu tidak terlebih dahulu tercipta dapat menum­buhkan tanaman, dapatkah para petani itu manuai hasil tanamannya? Demikianlah sunnah yang sudah ditetapkan-Nya (sunnatullah). Tidak hanya itu saja, bahkan cara mengusahakan rizki-rizki tersebut sesungguhnya merupakan bagian dari sunnah yang sudah ditetapkan pula. Dengan sunnah-sunnah itu, setiap makhluk hidup akan mendapatkan bagian yang sudah ditetapkan baginya.

2.      Rizki yang ditambahkan. Rizki ini bisa didapatkan ketika seorang hamba sudah mampu bersyukur kepada Allah dari rizki yang pertama. Hal itu sebagaimana yang telah dinyatakan dalam firman-Nya; “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. 14; 7) Jadi, kalau manusia belum bisa bersyukur, padahal rizkinya melimpa, betapapun besarnya kekayaan tersebut, sejatinya harta benda itu didatang­kan dari jenis “rizki yang dijamin”, bukan dari jenis “rizki yang ditambahkan”. Jenis rizki yang pertama bukan yang kedua, hanya saja dia mendapatkan pembagian yang lebih besar dibandingkan orang lain.

3.    Rizki yang dijanjikan. Yaitu rizki yang didatangkan dari rahasia (buah) ibadah yang dijalani. Sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan". (QS. 16; 97)

Adapun kebutuhan hidup manusia juga terdapat tiga macam. Pertama kebutuhan untuk kecukupan hidup (primer). Kedua kebutuhan untuk kesempurnaan hidup (sekunder) dan ketiga kebutuhan untuk kesenangan hidup (tersier). Kebutuhan untuk kecukupan hidup, boleh jadi semua orang hidup sudah mendapatkannya. Buktinya, bagaimanapun susahnya hidup seseorang, rata-rata masih bisa makan minimal dua kali sehari. Sedangkan kebutuhan untuk hidup sempurna, oleh karena tingkat kesempurnaan hidup ada batasnya, maka kebutuhan hidup yang kedua ini tentunya bisa direncanakan dan dibatasi. Berbeda apabila yang dibutuhkan hidup adalah memperturutkan kesenangan, terlebih hanya berdasarkan kemauan hawa nafsu, kebutuhan hidup inilah yang tidak terbatas, karena batasan senang hanyalah kematian.

Jika ketiga rizki tersebut dikaitkan dengan ketiga jenis kebutuhan hidup, maka cara mengusahakannya menjadi variatif. Jalan ikhtiar untuk mendapatkan rizki-rizki tersebut akan mengikuti jenis kebutuhan hidup tersebut. Saat itulah “iman dan tawakkal” seorang hamba diuji. Apabila dalam mengusahakan “rizki yang sudah dijamin” tersebut menjadikan sebab keteledorannya terhadap kuwajiban sebagai seorang hamba untuk mengabdi kepada Allah, maka berarti itu menunjukkan tanda-tanda bahwa matahati orang tersebut sedang tertutup.

Sarana Ibadah
Seringkali orang berdalih, rizki yang dicari-cari dalam hidupnya itu sesungguhnya hanya untuk mencukupi kebutuhan sarana ibadah, bukan untuk menumpuk-numpuk kekayaan. Kalau memang benar-benar demikian, maka pastinya usaha tersebut juga termasuk ibadah. Jika benar demikian, seperti orang mengerjakan shalat misalnya, maka tentunya setiap ibadah pasti ada syarat dan rukunnya, maka dalam mengusahakan rizki untuk ibadah itupun harus demikian, orang beriman harus mampu memilih jalan usaha yang dibenarkan dan dihalalkan oleh Agama, tidak dengan korupsi dan manipulasi.

Dalam kaitan tersebut, keadaan hati manusia dapat terbaca dari bagaimana cara mensikapi harta yang sudah didapatkan. Kalau harta-harta itu ternyata memudahkan mereka melaksanakan ibadah dan ringan dibelanjakan di jalan Allah, berarti pengakuannya tersebut benar, usahanya benar-benar termasuk ibadah. Apabila tidak, bahkan usahanya dalam mencari rizki-rizki itu ternyata justru mengalahkan kewajiban­nya dalam melaksanakan ibadah, apalagi dengan melakukan korupsi dan manipulasi maka yang terjadi malah sebaliknya, ibadah yang dilakukan itu sesungguhnya hanyalah dijadikan sebagai sarana untuk mendapatkan rizki dunia, dzikir dan wiritnya supaya bisa mendatangkan tambahan rizki dan bahkan dijadikan pesugihan. Jika kenyataannya demikian, maka berarti matahati manusia itu sedang dalam keadaan buta.

Oleh : Muhammad Luthfi Ghozali

5. TADBIR DAN CARA MENYIKAPINYA




اَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيْرِ ,
فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ

“Lambaikan hatimu dari apa yang sudah dalam pengaturan, apa saja yang sudah diatur oleh selainmu maka kamu jangan mengaturnya untuk dirimu”.

Mengatur diri untuk mengikuti apa yang sudah diatur Allah, menentukan pilihan terhadap apa yang sudah dipilihkan Allah, adalah merupakan kewajiban seorang hamba dalam melaksanakan pengabdian secara hakiki kepada-Nya. Allahlah satu-satunya yang sudah terlebih dahulu mengatur segala kehidupan alam semesta, sebagaimana firman-Nya: “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka”. (QS. 28; 68)

Apabila ada pengaturan dari selain-Nya yang tidak sejalan dengan aturan Rabbul Alamin, maka pengaturan tersebut akan sia-sia dan ketika masa tangguhnya telah lewat, maka aturan itu pasti akan hancur tanpa tersisa.

Merupakan kewajiban yang tidak kalah pentingnya dari ibadah, mengatur dan memilih jenis ibadah yang minimal mendekati terhadap ketentuan Allah untuk dirinya. Menghadapi realita, baik senang maupun susah, dengan hati yang pasrah. Melenturkan hasrat dan semangat, mengikuti apa yang sedang dihadapi, karena yang sudah terjadi pasti sesuai dengan kehendak Allah, dengan keyakinan hati bahwa Allah tidak pernah salah di dalam berbuat.

Adakah orang yang mencintai akan memberikan yang tidak layak kepada yang dicintainya? maka tinggal bagaimana kekuatan iman seorang hamba dalam menyikapi realita. Ketika sedang menghadapi sesuatu yang tidak sama dengan kehendak hatinya, menghadapi musibah umpamanya, sanggupkah hatinya tetap yakin bahwa dengan musibah tersebut sesungguhnya Allah sedang menguji iman dan cintanya.

Allah adalah Sang Pencipta dan Sang Pengatur Alam Semesta, sebagaimana firman-Nya:  “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa`at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?.” (QS. 10; 3)

Segala yang di langit maupun di bumi, Allah adalah pengaturnya. Adapun merupakan salah satu aturan-Nya, Allah berkehendak mentarbiyah hati hamba-Nya. Dengan tarbiyah itu supaya iman mereka menjadi tumbuh berkembang, jadi yakin dan ma’rifatullah. Oleh sebab itu, terhadap seorang hamba yang dicintai, realita itu senantiasa dijadikan sarana, supaya dengan realita tersebut Allah dapat menyampaikan segala kehendak­-Nya: “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. (QS. 21; 35)

Dengan keburukan dan kebaikan itu, Allah berkehendak supaya seorang hamba sadar bahwa ia harus kembali kepada-Nya. Matahatinya kembali cemerlang seperti saat dilahirkan oleh ibunya, kembali sebagaimana fithrahnya. Untuk itu keburukan dan kebaikan dijadikan sebagai fitnah atau ujian. Dalam menghadapi realita hidup tersebut, kekuatan iman adalah hal yang sangat menentukan supaya seorang hamba mampu menyikapinya dengan tepat. Kalau iman dalam hati sudah kuat, kalau hati yakin bahwa kedua hal tersebut hanyalah sekedar batu ujian, maka apapun yang sedang dihadapi sesungguhnya secara hakiki dia berhadapan dengan Allah sebagai kehendak dan pilihan-Nya.

Oleh karenanya, seorang hamba beriman harus mencintai Allah dengan sungguh-sungguh, tidak boleh setengah-setengah. Apabila yang paling dicintai hanya Allah, sedangkan selain Allah hanyalah merupakan sarana untuk mengaktualisasikan cinta tersebut, maka bagi orang tersebut tidak ada pilihan lagi, baik susah maupun senang pasti akan dirasakan sama.

Bahkan ketika sedang susah hatinya malah senang. Sebab, disamping yakin bahwa di balik susah itu pasti ada senang, juga dengan susah itu ia dapat menunjukkan kepada kekasihnya bahwa walau sedang menerima pemberian yang tidak disukai, dia dapat menerima dengan senang hati karena yang memberi adalah Dzat yang dicintainya. Sebaliknya, ketika sedang mendapatkan senang, hatinya bahkan jadi prihatin, karena ia tahu bahwa di balik senang itu pasti adalah susah. Maka senang itu tidak dihabiskan sendiri, melainkan dibagi kepada sesama yang membutuhkan.  Allah telah menegaskan yang demikian itu dengan firman-Nya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. 33; 36)

Asy Syekh ra berkata: “Lambaikan hatimu dari apa yang sudah dalam pengaturan, apa saja yang sudah diatur oleh selainmu maka kamu jangan mengaturnya untuk dirimu”.

Oleh ; Muhammad Luthfi Ghozali

4. GARIS KEPASTIAN DAN TAKDIR Part.1





سَوَابِقُ الْهِمَمِ لَا تَخْرُقُ اَسْوَارَ اْلأقْدَارِ

“Kemauan yang menggelora (sekalipun) tidak akan mampu menembus tirai takdir”.

Seorang SALIK (pengembara) di jalan Allah, dalam menggapai cinta dan citanya, mereka mengadakan pengembaraan ruhaniah, melaksanakan mujahadah dan riyadlah di jalan-Nya. Hal itu dilakukan disamping sebagai pelaksanaan pengabdian hakiki kepada Junjungannya, juga untuk melatih diri guna meningkatkan iman dan yakin. Mereka melaksanakan perintah Kitab Suci yang dinyatakan dalam firman-Nya:

 “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. 29; 69)

Sejak dahulu sampai sekarang, para salik itu melaksanakan mujahadahnya dengan bersungguh-sungguh, terkadang bahkan kesannya dengan cara berlebih-lebihan. Mereka seakan melupakan urusan yang lain dan mengorbankan kepentingan duniawi yang ada, yakni untuk sementara meninggalkan hak dan kewajiban sebagai anggota keluarga dan anggota masyarakat.

Hal tersebut dilakukan baik dengan sendirian maupun dalam kelompok kecil, mereka beri’tikaf dengan bersafari dari satu masjid kepada masjid yang lain, dan terkadang juga dengan menyepi dan mengasingkan diri dari dunia ramai, tinggal di dalam gua-gua di tengah hutan bahkan bermukim dalam waktu-waktu tertentu di komplek-komplek makam para waliyullah.

Namun demikian, betapapun kerasnya usaha seorang hamba untuk menggapai segala cita-cita dan harapannya, baik yang berkaitan dengan urusan agama, dunia maupun akhirat, sesungguhnya mereka tidak akan mampu melewati batas yang sudah digariskan oleh takdir Allah baginya. Demikianlah yang dimaksud oleh asy-Syekh, dalam konsepnya di atas: “Kemauan yang menggelora tidak akan mampu menembus tirai takdir”.

Memang seorang hamba harus memulainya dengan bekerja dan berusaha. Menyingsingkan lengan baju, mencangkul dan membajak sawah, memilih benih unggul, membaca pergantian musim dan mengalirkan air dari sumber mata airnya. Akan tetapi ketika benih di tangan akan ditanam, hendaknya ditanam di tanah yang tepat serta cocok. Kalau tidak, betapapun telah dilakukan dengan memeras keringat darah sekalipun, kalau tidak ditanam di tanah yang tepat, benih itu tidak akan dapat tumbuh dengan sempurna. Kalaupun bisa tumbuh, pohon itu tidak akan dapat berbuah dengan baik. Jika terjadi demikian, berarti pekerjaan tersebut menjadi sia-sia. Amaliyah itu hanya seperti debu bertebaran yang kemudian akan hilang sama sekali.

Setiap jenis tanah pasti punya sifat khusus yang tidak dimiliki tanah lain sehingga bijian khusus dapat tumbuh secara khusus pula di tanah tersebut. Di situlah awal mula indikator rahasia takdir dapat dibaca oleh matahati yang ‘arifin. Adapun tanah yang dimaksud bukan hanya tanah yang ada dipermukaan bumi saja, namun juga yang berada di dalam dada seorang hamba yang beriman.

Allah telah menetapkan sunnah-Nya, dengan menciptakan garis-garis batas dan tanda-tanda yang jelas—terhadap setiap jenis makhluk yang diciptakan-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (QS. Ali Imran; 190) Yang sejak diciptakan-Nya, tidak akan ada perubahan lagi baginya.

Seorang petani yang baik, tidaklah hanya mampu mengenali jenis benih unggul saja, namun juga harus mampu mengenali sifat tanah dan gejala pergantian musim serta jenis-jenis penyakit dan obat-obatan. Hal itu agar apa yang diusahakan minimal dapat mendekati kebenaran. Pekerjaan itu tidak melenceng dari suratan takdir yang tidak dapat ditembus oleh usaha yang bagaimanapun dari seorang hamba.

Oleh Muhammad Luthfi Ghozali
Pengasuh Ponpes Assalafi Al-Fithrah
Sumurrejo Gunungpati Semarang
Jawa Tengah INDONESIA

Advertise