MENGUAK DUNIA JIN Part 2 ~ Melihat JIN Dengan Mata Kepala..?~





Jika yang dimaksud melihat Jin dalam arti melihat dengan mata kepala maka pasti manusia tidak dapat melakukannya, karena Allah Ta’ala telah menetapkan jin tidak dapat dilihat mata manusia. Allah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:
إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ
Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. QS:7/27.

Demikian pula yang dinyatakan Ibnu Abbad r.s dalam sebuah hadis Nabi s.a.w. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. berkata:
مَا قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْجِنِّ وَمَا رَآهُمُ
Yang artinya: Rasulullah saw tidak membacakan al-Quran jin dan tidak pula melihat mereka.

Jika yang dimaksud melihat jin dalam arti mengenali keberadaan jin, maka orang tidak harus menggunakan mata kepala, dengan perasaan atau indera batin yang disebut indera hayali seorang yang ahli bisa merasakan keberadaan jin, baik yang berada di suatu tempat ataupun jin yang sedang nyurup dalam tubuh manusia. Seorang yang ahli bisa mengenali keberadaan jin yang sedang nyurup dalam tubuh manusia itu melalui perubahan karakter manusia yang kesurupan jin tersebut, namun yang bisa memastikan hal ini hanya orang yang ahli dalam ilmunya. Orang awam sulit bisa membedakan antara orang yang sakit jiwa dengan orang yang kesurupan jin, karena gejalanya hampir sama.

Seperti orang bisa mengenali suatu benda dengan inderanya, dengan penciuman atau pendengaran misalnya orang bisa mengenali bauh atau suara. Asal dengan inderanya tersebut orang dapat mengenali sifat dan wujud suatu benda maka hal itu boleh dikatakan ‘rukya’ atau melihat. Seperti contoh orang buta bisa mengenali uang kertas, padahal seumur hidupnya tidak pernah melihat uang itu dengan matanya, melainkan meraba dengan tangannya. Dengan mencium orang dapat mengenali kwalitas tembakau, dan dengan mendengarkan orang dapat mengenali seseorang melalui suaranya, bahkan melalui suara langkah kakinya.

Orang bisa mengenali jenis suara, padahal suara itu tidak dapat dilihat dengan mata. Meski hanya dengan pendengaran, ketika seseorang dapat mengenali suatu benda, maka orang itu berarti mengenali benda tersebut. Seperti orang makan salak secara terus-menerus sehingga menjadi tahu dengan persis bahwa salak yang dimakan itu salah pondoh misalnya, orang tersebut berarti termasuk orang yang kenal salak pondoh. Bahkan semakin ahli, semakin itu pula dia dapat mengetahui dengan tepat terhadap segala jenis-jenis salak secara spesifik. 

Melihat jin itu tidak harus dengan mata kepala, yang pasti jin itu ada. Jin dapat melihat manusia, manusia tidak dapat melihat jin. Kehidupan jin dekat dengah manusia, hanya saja manusia tidak dapat merasakannya. Demikianlah yang dinyatakan Allah dengan firman-Nya. Oleh karena alam jin adalah alam ghaib (bagi indera lahir), maka untuk mampu mengenalinya, pertama seorang hamba wajib beriman terhadap apa-apa yang disampaikan oleh Allah Ta’ala melalui wahyu-Nya. Ketika alam jin dinyatakan Allah Ta’ala dengan firman-Nya, maka seorang hamba wajib mengimaninya. Selanjutnya, apabila orang beriman tersebut ingin memperdalam imannya sampai menjadi yakin hingga dengan yakin itu diharapkan bisa merasakan keberadaan jin, maka dengan kemampuan imaginasi yang ada orang tersebut harus bersungguh-sungguh mengadakan kajian dan penelitian dengan cara yang benar dan tentunya dengan mendapatkan bimbingan dari guru ahlinya, memadukan antara ayat yang tersurat dengan ayat yang tersirat, dengan ilmu Allah dan izin-Nya orang tersebut akan dibukakan penutup matanya sehingga mendapatkan sesuai apa yang diharapkan.
Ketika Allah SWT. berfirman:
وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا- الفرقان:25/53
Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. QS:25/53.

Manusia harus mengimani firman Allah Ta’ala tersebut, karena hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui keadaan makhluk-Nya. Menurut ayat diatas, alam manusia bagaikan samudera dan alam jin juga bagaikan samudera, namun antara keduanya dibatasi barzah atau ruang waktu dan dinding-dinding yang membatasi. Maksudnya, alam manusia adalah suatu dimensi dan alam jin juga suatu dimensi, masing-masing dimensi itu dibatasi oleh dimensi lain pula. Seperti alam mimpi adalah dimensi dan alam jaga juga dimensi, masing-masing dimensi tersebut dibatasi oleh dimensi yang lain yaitu alam tidur. Alam tidur dikatakan sebagai pembatas antara alam sadar dengan alam mimpi, karena mimpi itu terjadi di alam tidur meski tidak semua orang tidur bisa bermimpi, hal ini membuktikan bahwa alam tidur berbeda dengan alam mimpi.

PENAMPAKAN YANG MENGHANTUI HAYAL

Ketika orang mendapati penampakan secara hayali, baik didapatkan sebagai hasil wiridan dan mujahadah atau karena ingatannya sedang sakit. Orang tersebut kemudian mengira penampakan yang muncul dalam hayal itu adalah bentuk jin yang asli, maka perkiraan tersebut salah, karena jin telah ditetapkan tidak dapat dilihat dengan mata maka wujud jin pasti tidak mungkin dapat dibayangkan dalam hayal manusia. Penampakan-penampakan tersebut sesungguhnya hanyalah bentuk gambar (visual) yang ditusukkan jin ke dalam alam hayal manusia, itu bisa terjadi, karena orang tersebut sebelumnya telah menghayal jin sesuai gambaran yang dalam hayalnya sendiri. Oleh karenanya, ketika bayangan gambar jin yang ada dalam hayalan orang tersebut bentuknya putih, maka penempakan yang muncul akan berbentuk putih-putih, demikian pula apabila hayalan itu berbentuk hitam, maka penampakan yang muncul juga berupa hitam-hitam.

Penampakan itu sesungguhnya hanyalah hasil tipuan sihir jin, bukan bentuk asli jin. Dengan mengambil bahan-bahan yang sudah tersedia dalam rekaman memori hayal manusia yang sedang dalam keadaan kesadarannya kurang sehat, sedang dalam kondisi antara sadar dan tidak sadar tapi sadar, Jin yang berbuat sihir itu membentuk bahan yang diambil tersebut menjadi visual dan dimasukkan lagi ke dalam bilik hayal sehingga orang yang tersihir itu seakan-akan melihat ada orang berdiri di depannya, padahal visual itu hanya gambar virtual yang tidak berwujud. Dalam kaitan ini banyak orang ahli wirid dan mujahadah terperangkap di dalam tipudaya setan jin. Terlebih lagi ketika penampakan itu kemudian mengeluarkan suara dan mengaku ruh wali, maka ahli wirid itu menghadapi jebakan setan yang sangat mematikan, karena selanjutnya jin bisa menjadi orang tersebut menjadi sombong karena merasa dirinya lebih baik dibanding orang lain.

Orang tidak dapat melihat jin karena mata lahirnya sedang ditutupi, atau karena sorot pandangnya sedang diselimuti hijab-hijab basyariah. Ketika hijab-hijab itu dihapus sehingga penutupnya menjadi buka, maka dengan izin-Nya manusia dapat merasakan keberadaan jin. Allah telah mengisyaratkan hal tersebut dengan firman-Nya:
لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”. QS:50/22.

Seandainya ada orang dapat melihat jin karena sorot matanya telah menjadi tajam dan tembus pandang dan ketika ternyata bentuk jin itu tidak sama dengan segala bentuk yang ada di alam dunia, dapatkah orang tersebut memberikan contoh kepada orang lain yang belum pernah melihat bentuk asing tersebut…?
Ketika pandangan mata manusia telah menjadi tembus pandang, berarti saat itu orang tersebut tidak melihat dengan mata lahir melainkan dengan mata batin atau matahati, karena hanya dengan indera batin orang dapat melihat alam batin. Keadaan yang dilihat oleh matahati , dapatkah hal tersebut diperlihatkan kepada orang lain melalui mata lahirnya? tentunya tidak bisa. Seperti orang dapat mengenali suara dengan pendengarannya misalnya, dapatkah suara itu dikenalkan kepada orang yang tidak punya indera pendengaran? Atau dikenalkan melalui indera penciuman, karena orang tersebut indera pendengaran sedang sakit….?

Walhasil, apa saja yang dapat dicontohkan oleh manusia tentang bentuk jin melalui gambar yang dapat dilihat oleh mata lahir manusia, sesungguhnya itu hanyalah kebohongan belaka, baik kebohongan yang disebarkan oleh jin terhadap manusia yang dapat dibohongi ataupun oleh manusia yang memang suka berbuat bohong. Sesungguhnya bentuk jin itu tidak dapat dilihat oleh manusia dengan panca inderanya atau disebut bashoroh melainkan dirasakan dengan indera batin yang disebut indera hayali atau bashiroh. Hanya Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui kepada segala ciptaan-Nya.
Oleh Muhammad Luthfi Ghozali.

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan tinggalkan komentar, pesan, kritik atau saran untuk kami

Advertise