GARIS KEPASTIAN DAN TAKDIR Part 2 (Menyatukan Dua Kehendak yang Berbeda)





Menanam benih itu tidak hanya di tanah orang lain saja, namun juga dan yang lebih penting adalah di tanah sendiri, yakni hati kita sendiri. Dengan dzikir misalnya, ketika dzikir itu diniatkan untuk melaksanakan mujahadah kepada Allah guna membangun sebab-sebab untuk mendapatkan akibat yang baik. Dengan amaliyah itu seorang hamba berharap dibukakan pintu hatinya untuk menerima Nur Ma’rifat serta Rahasia-rahasia kebesaranNya, maka hendaklah seorang hamba ingat bahwa Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an Al-Karim: “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". (QS. 37/96)

Artinya; apapun yang dikerjakan oleh manusia, sesungguhnya—seperti dirinya juga—pekerjaan itu adalah ciptaan Allah pula. Oleh karenanya, sejak pertamakali amaliah itu dilakukan, hendaknya diberangkatkan dengan pemahaman yang kuat, bahwa dzikir yang sedang dilakukan itu hanyalah sebuah pelaksanaan (taqdir) yang sudah ditetapkan-Nya sejak zaman azali.

Orang yang sedang berdzikir itu harus mampu meredam kemauan basyariyah dan mengembalikan kepada ketetapan takdir azaliah serta menjiwai lafat-lafat dzikir yang sedang dibaca dengan dasar keyakinan, bahwa seorang hamba hanya sebagai pelaksana sedangkan Allah adalah Perencana yang Maha Perkasa. Dengan yang demikia  itu maka irodah hadits akan menyatu dengan irodah azaliah.

Ketika irodah hadits dan irodah azali sudah menyatu dalam kesatuan semangat. Seorang hamba berdzikir dengan usahanya dan Sang Junjungan berdzikir dengan kekuasaan dan izin-Nya, maka yang asalnya lemah—karena dilaksanakan pada dimensi hadits—akan menjadi kuat karena dilaksanakan dalam nuansa kebersamaan dengan dimensi qadim. Buahnya , maka terjadilah apa yang disebut dengan istilah “Tauhidul Fi’li” atau satu dalam perbuatan. Yang satu merupakan perbuatan seorang hamba secara majazi dan yang satunya adalah perbuatan Sang Junjungan secara hakiki.

Selanjutnya, seorang hamba hendaknya mengingat lagi, bahwa Allah pernah berfirman: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali bila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. 81; 29).

Artinya: Sesungguhnya apa saja yang sudah dilakukan tersebut semata-mata hanya berangkat dari kehendak yang satu, yaitu kehendak Allah Tuhan Yang Menciptakan Alam Semesta. Bahwa kehendak-Nya adalah merupakan sebab pertama, kemudian dari sebab itu timbullah kehendak-kehendak berikutnya yang tersusun sesuai skenario yang tertib—sebagai sebab-sebab sampai kemudian timbullah suatu akibat yang baik—yakni kehendak seorang hamba untuk melaksana­kan dzikir kepada Tuhannya.  

Dengan yang demikian itu, apabila kehendak yang hadits telah menyatu dengan kehendak yang qadim, maka sesungguhnya tidak ada lagi yang berkehendak kecuali hanyalah kehendak Allah Rabbul ‘Alamin.

Oleh Muhammad Luthfi Ghozali

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan komentar, pesan, kritik atau saran untuk kami

Advertise